Sukses

Kakak Kim Jong-un Sempat Minta Ampun agar Tak Dibunuh

Liputan6.com, Kuala Lumpur - Kakak tiri Kim Jong-un, Kim Jong-nam, tewas dalam sebuah serangan di Bandara Internasional Kuala Lumpur pada 13 Februari 2017. Peristiwa itu terjadi setelah beberapa tahun sebelumnya ia meminta adiknya untuk mengampuninya.

Menurut Direktur National Intelligence Service Korea Selatan, Lee Byung-ho, pada 2012 Kim Jong-un menerima sebuah surat dari Kim Jong-nam. Isinya, permintaan agar pemimpin Korut itu menarik keputusan untuk membunuh dirinya.

"Kami tak punya tempat untuk pergi, tempat untuk bersembunyi. Kami sangat menyadari bahwa satu-satunya cara untuk melarikan diri adalah bunuh diri," demikian surat Kim Jong-nam kepada adiknya seperti dikatakan oleh salah satu pejabat Korsel.

Lee mengatakan, terdapat upaya pembunuhan terhadap Kim Jong-nam pada tahun yang sama.

"Ini bukan tindakan terhitung untuk menyingkirkan Kim Jong-nam karena dianggap ancaman, melainkan mencerminkan paranoia Kim Jong-un," ujar Lee seperti dikutip dari ABC, Kamis (16/2/2017).

Baik pejabat Korsel dan Amerika Serikat meyakini serangan mematikan yang ditujukan kepada Kim Jong-nam itu merupakan perbuatan pembunuh asal Korea Utara.

Kim Jong-nam merupakan anak tertua Kim Jong-il. Ia disembunyikan dari publik selama bertahun-tahun karena Kim Jong-il dan ibunya yang merupakan seorang aktris, Song Hye-rim, tidak menikah secara resmi.

Meski disembunyikan dari hadapan publik, ia dicintai oleh ayahnya. Hal tersebut diungkap oleh bibi dan wali Kim Jong-nam, Song Hye-rang, dalam sebuah memoar berjudul The Wisteria House.

"Kata-kata tidak bisa menggambarkan seberapa dalam Jong-il mencintai anaknya," tulisanya saat menceritakan masa di saat Kim Jong-nam lahir.

"Pangeran muda (Kim Jong-il) menimang anaknya yang resah untuk kembali tidur, dilakukan sampai ia berhenti menangis, dan bergumam seperti ibu yang menenangkan bayi menangis," ucap dia.

Kim Jong-nam pindah ke Rusia dengan ibunya saat berusia delapan tahun. Ia menghabiskan masa kecilnya dengan bolak-bolik menempuh pendidikan di sekolah internasional di Moskow dan Jenewa.

Saat berusia 18 tahun, Kim Jong-nam akhirnya kembali lagi ke Korea Utara. Saat itu sejumlah pihak menduga bahwa ia akan menjadi pengganti ayahnya.

Rencana tersebut dengan seketika buyar saat Kim Jong-nam ditangkap bersama dengan keluarganya di bandara Tokyo pada 2001. Saat itu ia ketahuan menggunakan paspor palsu Republik Dominika.

Jong-nam mengaku bahwa keluarganya ingin mengunjungi Disneyland yang berada di Tokyo. Ia dan tiga orang lainnya dideportasi ke Korea Utara melalui Beijing.

Insiden tersebut dilihat sebagai penyebab Kim Jong-nam dikeluarkan dari keluarga besarnya.

Kim Jong-nam menghabiskan sisa-sisa harinya di Beijing, Malaysia, dan Singapura. Namun, sebagian besar waktunya ia habiskan di Makau.

Pria kelahiran 10 Mei 1971 itu dilaporkan setidaknya memiliki enam anak dan beberapa istri.

Artikel Selanjutnya
Ibu Pembunuh Pegawai BNN Minta Anaknya Bertanggung Jawab
Artikel Selanjutnya
HEADLINE: Staf BNN Tewas Ditembak Suami, Tak Tahan Hidup Susah?