Sukses

Sejarah Kelam Industri Rokok AS Membidik Anak-Anak

Liputan6.com, New York - Dampak merokok telah terbukti menambah biaya kesehatan suatu negara. Amerika Serikat termasuk yang gencar menyadarkan warganya akan bahaya dan biaya rokok.

Siapa sangka, ternyata di negeri Paman Sam itu, rokok malah pernah sengaja ditujukan kepada para perokok muda, bahkan kepada anak-anak.

Dikutip dari All That is Interesting pada Kamis (16/2/2017), Horation Alger, yang menjadi pencerita "Ragged Dick" (1868), mungkin menawarkan penjelasan paling cermat tentang epidemi kontemporer yang tidak terbayangkan pada Abad ke-21, yaitu ketagihan anak-anak kepada rokok.

Dalam catatan setelah selesainya Perang Sipil itu, Alger menuliskan, "Kaum pria sering dirugikan oleh merokok, tapi anak-anak lelaki selalu (dirugikan)."

Ketika menuliskan itu, ia merujuk kepada anak-anak penjaja koran dan jasa semir sepatu yang rentan melakukan kebiasaan tersebut.

"Paparan pada dingin dan kelembaban, mereka mendapati bahwa merokok menghangatkan, dan diikuti dengan memanjakan diri."

Anak lelaki merokok di Kansas City, Missouri, 1973. (National Archives/Kenneth Palk)

"Tidak jarang melihat seorang anak lelaki yang masih terlalu kecil untuk dilepaskan dari pengawasan ibunya, kelihatan merokok dengan puas seperti seorang perokok kawakan."

Beberapa dekade terakhir Abad ke-19 mempermudah anak-anak Amerika mendapatkan rokok karena produksi berbantu mesin sebenarnya telah ikut andil dalam peningkatan konsumsi rokok secara nasional.

Sementara itu, kurangnya aturan tentang tenaga kerja anak menyebabkan anak-anak Amerika, terutama yang ada di pusat-pusat kota, hidup jauh dari rumah dan tanpa pengawasan. Misalnya seperti para anak-anak penjaja koran dan penyemir sepatu yang kemudian bebas bereksperiman dengan merokok.

Anak-anak lelaki Italia-Amerika di Spruce St., Providence, Rhode Island, 1912. (Wikimedia Commons/Lewis Hine)

Di awal Abad ke-20, pemerintah Amerika Serikat benar-benar pro merkokok dan, misalnya, meluputkan tembakau dalam peraturan Food and Drug Act of 1906.

Rokok pun diikutkan sebagai jatah perbekalan para tentara dalam Perang Dunia I. Apalagi kanker paru-paru saat itu hanya bisa didiagnosa setelah kematian dan risko langsung pada kesehatan karena merokok masih belum jelas.

Bahkan, setelah legislasi tentang tenaga kerja anak setelah masa Depresi Besar pun, risko kesehatan merokok masih belum dianggap, cenderung diabaikan. Legislasi tersebut memang melarang anak bekerja dan mendekatkan mereka kepada para pengasuhnya.

(Wikimedia Commons/Lewis Hine)

Baru setelah penelitian penting Surgeon General pada 1964 opini publik mulai bergeser walau hanya sedikit. Misalnya, iklan rokok di televisi masih berlanjut hingga 1971, bahkan pada jam ketika anak-anak masih bangun. Tapi, angka merokok pada orang dewasa dan anak-anak terus turun sejak saat itu.

Foto-foto lawas tentang anak-anak yang merokok menangkap bukan saja saat-saat naïf. Bukan hanya di Amerika Serikat, tapi, di seluruh dunia, foto-foto itu menegaskan masa di mana anak-anak yang melakukan kebiasaan itu malah diterima, bukan ditentang.

Anak-anak lelaki pengantar koran, St. Louis, Missouri, 1910. (Wikimedia Commons/Lewis Hine)