Sukses

Survei: Kebanyakan Warga AS Ingin Obama Kembali Jadi Presiden

Liputan6.com, Washington, DC - Donald Trump baru jadi presiden selama 13 hari. Namun, setengah warga AS sudah rindu dengan mantan Presiden Barack Obama. Hal itu terungkap dalam sebuah survei.

Sekitar 52 persen warga AS berharap Obama kembali jadi presiden. Demikian sebuah survei yang dilakukan oleh Public Policy Polling. Sementara hanya 43 persen yang senang Trump berada di Gedung Putih.

Dikutip dari Independent, lebih dari 40 persen mereka ingin presiden baru itu dipecat. Angka itu naik dari seminggu lalu yang 'hanya' 35 persen.

Lebih dari 500 ribu orang juga telah menandatangani petisi oleh sebuah kelompok bernama Impeach Trump Now. Alasan petisi itu karena Trump dianggap pemerintahan AS sekadar salah satu bisnisnya saja.

Trump, meski menang berkat electoral vote, ia kalah dalam popular vote dan peringkat popularitasnya terendah dalam sejarah Amerika kontemporer.

Angka tersebut semakin rendah karena kebijakan-kebijakannya.

Hanya seperempat orang Amerika (26 persen) yang mendukung larangan Muslim, perintah eksekutif yang melarang hampir semua pengunjung dari tujuh negara mayoritas Muslim selama setidaknya 90 hari.

Nyaris setengah dari pendukung Trump senang dengan kebijakan anti-muslim itu dan 48 persen percaya bahwa pengunjuk rasa di bandara di seluruh AS -- juga Women's Marches (gerakan perempuan anti-Trump), dibayari oleh miliarder investor dan pendukung Hillary Clinton, George Soros.

Trump juga memiliki kecurigaan adanya pemilih ilegal yang membuatnya kehilangan suara populer. Pandangan itu dipercaya 26 persen warga AS.

Untuk masalah tembok, 54 persen warga AS menolak untuk membayarnya.

Tembok perbatasan itu dipercaya akan menghabiskan dana US$14 miliar. Dan Presiden Meksiko, Pena Nieto bersumpah tidak akan mengganti uang kepada AS.

Kebijakan Trump untuk menghapus Obamacare juga ditentang. Hanya 41 persen yang menolak Affordable Care Act, skema asuransi kesehatan terjangkau yang digagas Obama.

Kebijakan tidak populer Trump dimulai terlalu dini. Bahkan, pada hari pelantikannya, ia menuntut untuk mengetahui mengapa National Park Service telah men-Tweet gambar dari kerumunan relatif kecil kala ia disumpah dibandingkan dengan Obama.

Buntut dari foto itu, ia memblokir akses media sosial di lembaga pemerintah. Hanya 30 persen pemilih menyetujui rencana itu.

Kepala strategi dan pendiri Breitbart, Steve Bannon memiliki dukungan yang sangat rendah dari 19 persen pemilih. Hanya lebih dari sepertiga dari mereka yang disurvei berpikir itu adalah ide yang baik untuk Bannon untuk menjadi anggota tetap Dewan Keamanan Nasional.

Jajak pendapat yang disurvei 725 pemilih terdaftar berlangsung antara 30 dan 31 Januari dengan 80 persen dari mereka yang berpartisipasi melalui telepon. Margin of error adalah 3,6 persen

Artikel Selanjutnya
Terungkap, Isi Surat Barack Obama ke Donald Trump
Artikel Selanjutnya
Diam-Diam Mark Zuckerberg Ingin Jadi Presiden AS?