Sukses

Myanmar Akan Pulangkan 2.415 Warganya dari Bangladesh, Rohingya?

Liputan6.com, Naypyidaw - Myanmar mengatakan akan membawa pulang 2.415 warganya dari Bangladesh. Jumlah ini hanya sebagian kecil dari 300.000 warga Myanmar yang melarikan diri ke sana.

Ketegangan antara Myanmar-Bangladesh dikabarkan meningkat sejak Oktober lalu tepatnya setelah operasi militer dilancarkan di negara bagian Rakhine. Peristiwa itu memicu eksodus 50.000 warga Myanmar.

"Hanya ada 2.415 warga Myanmar, jika merujuk pada data kami," kata Kyaw Zaya, direktur jenderal di Kementerian Luar Negeri Myanmar seperti dilansir Reuters, Sabtu (31/12/2016).

"Kami selalu mengacu pada data kami," imbuhnya, seraya menambahkan ia tidak tahu menahu tentang 300.000 warga yang disebut dalam laporan lainnya.

Menurut Zaya, pemerintah Myanmar berencana memulangkan 2.415 warganya tersebut pada tahun 2017. Meski demikian, tak secara eksplisit dijelaskan siapa ke-2.415 yang dimaksud--Rohingya atau bukan.

Bangladesh sebelumnya dikabarkan telah memanggil duta besar Myanmar di Dhaka untuk menuntut repatriasi awal seluruh warga negara Myanmar dari negara itu. Demikian keterangan Kementerian Luar Negeri yang secara jelas menyebutkan bahwa jumlah warga Myanmar di sana 300.000 orang.

Keamanan di negara bagian Rakhine telah menjadi sorotan tajam seiring dengan dugaan kekerasan yang dilakukan militer kepada warga Rohingya. Pemerintah Myanmar berdalih itu merupakan balasan terhadap serangan yang dilancarkan terhadap pos-pos keamanan di dekat perbatasan dengan Bangladesh pada 9 Oktober lalu.

Sejumlah serangan tersebut dituding dilakukan olek kelompok militan Islam yang memiliki hubungan dengan kelompok militan Islam di luar Myanmar.

Kelompok pemantau HAM menengarai selama operasi militer berlangsung telah terjadi pelanggaran HAM. Tudingan ini dibantah Myanmar dan mengatakan laporan tersebut palsu. Otoritas setempat menekankan bahwa konflik di Rakhine adalah masalah internal.

Data yang beredar memang menyebut angka berbeda-beda. Bangladesh mengatakan terdapat 50.000 warga Myanmar yang melarikan diri ke negaranya, sementara PBB mengklaim ada 34.000 orang.

Namun yang pasti jumlah tersebut jauh lebih banyak dari yang diklaim oleh pemerintah Myanmar.

Kekerasan di Rakhine telah menjadi tantangan besar bagi pemerintah Aung San Suu Kyi. Dunia internasional turut mengecam Suu Kyi yang juga peraih Nobel Perdamaian itu, menyebut tak berbuat apa-apa untuk menyelesaikan krisis di Rakhine.

Bangladesh telah mendesak Myanmar untuk segera menangani akar penyebab masalah. Pihak Dhaka juga menegaskan, pihaknya siap mendiskusikan proses dan modalitas repatriasi dengan Myanmar.

Sudah selama beberapa dekade, Myanmar berpendapat bahwa Rohingya adalah imigran ilegal dari Bangladesh sehingga mereka tidak memiliki kewarganegaraan. Sementara Bangladesh mengklaim bahwa Rohingya adalah warga Myanmar dan mereka menolak untuk memberikan status pengungsi.

Peristiwa lain yang ikut menambah ketegangan Myanmar-Bangladesh adalah dalam pekan ini, pasukan perbatasan Bangladesh menuding angkatan laut Myanmar menembaki kapal nelayan mereka di Teluk Benggala.