Sukses

Perang terhadap Mafia, Venezuela Tutup Perbatasan dengan Kolombia

Liputan6.com, Caracas - Venezuela menutup perbatasannya dengan Kolombia selama 72 jam. Ini sebagai upaya untuk memerangi penyelundupan.

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro mengatakan, mafia telah beroperasi di zona perbatasan. Hal tersebut memicu "kerusakan besar" di sektor ekonomi.

Banyak barang-barang yang disubsidi oleh pemerintah Venezuela termasuk diesel dan bensin dijual dengan harga tinggi di perbatasan Kolombia. Oleh karena itu langkah untuk menutup perbatasan diharapkan dapat menghentikan penimbunan uang oleh mafia.

"Mari kita hancurkan mafia sebelum mafia menghancurkan negara dan perekonomian. Langkah ini tak terelakkan, ini diperlukan. Mafia akan bangkrut," ujar Presiden Maduro seperti dikutip dari BBC, Selasa (13/12/2016).

Venezuela terakhir kali menutup perbatasannya dengan Kolombia pada Agustus 2015 lalu. Dan zona itu dibuka kembali setahun setelahnya.

Pemerintah Kolombia sempat memprotes hal tersebut karena merasa tidak diberitahukan lebih dulu. Namun akhirnya kedua belah pihak mencapai kesepakatan untuk bekerja sama dalam memerangi kejahatan dan penyelundupan di zona perbatasan yang membentang sepanjang 2.200 kilometer.

Yang paling terkena dampak dari penutupan perbatasan ini dilaporkan adalah masyarakat sekitar dan mereka yang bekerja di kota perbatasan.

Sebelumnya, pada hari Minggu lalu, Presiden Maduro telah mengumumkan bahwa denominasi uang kertas tertinggi--100 bolivar--di negara itu akan ditarik dari peredaran. Langkah ini juga untuk mendukung perang terhadap mafia.

Menurut Bank Sentral terdapat 6 miliar uang kertas 100 bolivar yang beredar dan rakyat memiliki waktu 10 hari untuk menukar ke mata uang baru.

Presiden Maduro lebih lanjut menjelaskan bahwa mafia menimbun lebih dari 300 miliar boliviar dan kebanyakan di antaranya adalah nominal 100 bolivar. Ia pun menyebutkan, kota-kota di Kolombia seperti Cucuta, Cartagena, Maicao, dan Buaramanga memiliki "gudang yang menyimpan 100 bolivar".

"Saya telah memerintahkan untuk menutup semua rute, baik darat, laut, mau pun udara sehingga uang-uang tersebut tidak dapat dikembalikan dan mafia terjebak dengan 'tipuan' mereka sendiri di luar negeri," kata Maduro.

Sejumlah pihak mengkritik kebijakan Maduro terkait penarikan mata uang 100 bolivar tersebut. Mereka memprediksikan akan terjadi kekacauan mengingat fasilitas bagi penukaran mata uang tersebut tak memadai.

"Ketika orang bodoh mengatur! Siapa yang berpikir memungkinkan untuk melakukan semua ini pada bulan Desember terlebih di tengah semua masalah kita?," cuit pemimpin oposisi, Henrique Capriles di media sosial Twitter.

Di India, langkah penarikan pecahan mata uang kertas tertinggi juga terjadi. Hal tersebut sebagai kebijakan Perdana Menteri Narendra Modi untuk memerangi korupsi dan uang gelap yang beredar di masyarakat.

Namun ketidaksiapan infrastruktur membuat situasi kacau. Rakyat di Negeri Hindustan terpaksa mengantre selama berjam-jam untuk menukarkan uang mereka.

Artikel Selanjutnya
Diterjang Krisis, Inflasi di Venezuela Capai 700 Persen
Artikel Selanjutnya
Sudah Terkepung, ISIS Segera Terusir dari 'Ibu Kota' Mereka