Sukses

Kematian Fidel Castro dan Ramalan 'Kehancuran' AS

Liputan6.com, Richmond - "Fidel Castro is dead," empat kata itu yang disampaikan Presiden ke-45 Amerika Serikat terpilih Donald Trump dalam akun Twitternya, menanggapi kematian pemimpin revolusi Kuba tersebut.

Trump kemudian bahkan mengancam akan memutuskan hubungan AS dan Kuba, mementahkan kembali upaya normalisasi yang digagas Presiden Barack Obama.

Tak hanya Trump yang 'mensyukuri' meninggalnya Castro, warga di Miami, Florida turun ke jalan untuk merayakannya. Sebagian warga Negeri Paman Sam berpendapat, pemimpin Negara Karibia yang tutup usia pada usia 90 tahun itu adalah 'musuh bebuyutan' AS. 

Lepas dari respons tersebut, sebuah ramalan berusia 35 tahun menyebut, ada benang merah yang mengaitkan kematian Castro dengan nasib Amerika Serikat.

Konon, Amerika Serikat akan mengalami kehancuran ekonomi menyusul meninggalnya Fidel Castro. Benarkah demikian?

Ramalan tersebut disampaikan pada 1981 oleh seorang pria bernama John W Johnston. Sebelumnya, ia telah memprediksi dengan tepat runtuhya Tembok Berlin, kehancuran Uni Soviet, dan kebangkitan Vladimir Putin.

Dalam catatan prediksinya di blog UnitedStatesProphecy.com, pria yang mengaku sebagai 'nabi' itu mengaku bahwa ia menerima wahyu antara tahun 1981 hingga 2011. Meski demikian, beberapa orang meragukannya karena ia tak memberikan tanggal dalam banyak postingannya.

Berdasarkan referensi blog dan rekaman yang diunggah ke akun berbagi videonya, tulisan yang mendokumentasikan ramalannya dibuat antara tahun 2009 hingga 2014.

Dalam blog-nya, Johnston mengklaim menerima wahyu pada 1981 yang mengungkap bahwa runtuhnya Tembok Berlin akan memicu kehancuran Uni Soviet. Meski demikian, ia mengaku bahwa Rusia akan pulih kembali di bawah pemimpin yang kuat.

Tembok Berlin runtuh pada 9 November 1989, delapan tahun setelah ramalan itu diungkap Johnston. Disintegrasi Uni Soviet pun terjadi dua tahun setelah peristiwa bersejarah di Jerman terjadi, yakni pada 31 Desember 1991.

Runtuhnya Tembok Berlin (Wikipedia)

Dikutip dari Inquistr, Selasa (29/11/2016), Johnston juga mengklaim bahwa dirinya menerima wahyu pada 1981, yakni kebangkitan Rusia setelah Uni Soviet runtuh di bawah kepemimpinan Vladimir Putin. Bangkitnya Negeri Beruang Merah itu akan diikuti dengan kematian Fidel Castro.

Selain itu, ia juga mengungkap ramalan yang dianggap paling mengerikan, yang saat ini membuat geger sejumlah blog teori konspirasi. Johnston memprediksi bahwa kematian Fidel Castro akan diikuti dengan hancurnya ekonomi Amerika Serikat.

"Ketika kamu melihat Tembok Berlin runtuh dan ketika kamu menyaksikan Uni Soviet hancur lalu bangkit kembali, kemudian kalian akan melihat kematian Fidel Castro; lalu kehancuran sistem ekonomi di Amerika Serikat akan datang," ujar Johnston.

Wahyu lain yang ia klaim diterima pada 1990, termasuk serangan nuklir Rusia ke New York dan invasi China ke Pantai Barat Amerika Serikat.

Menurut orang-orang yang meyakini ramalan tersebut, Johnston dengan benar meramalkan bahwa runtuhnya Tembok Berlin akan menjadi mata rantai pertama yang memicu hancurnya Uni Soviet dan kebangkitan Rusia. Tak hanya itu, mereka juga yakin bahwa ramalan tentang kehancuran ekonomi AS akan terpenuhi.

1 dari 2 halaman

Ramalan Kehancuran Vs Optimisme AS

Menurut mereka yang percaya ramalan itu, Rusia akan mengalami kebangkitan di bawah kepemimpinan Vladimir Putin. Mereka menggarisbawahi, saat ini Negeri Beruang Merah telah berhasil menantang negara Barat dengan ketegangan yang saat ini terjadi di Eropa Timur dan perang di Timur Tengah -- khususnya Suriah.

Selain itu, kematian Fidel Castro yang terjadi setelah kebangkitan Rusia membuat sejumlah orang kembali memperhatikan ramalan yang diungkap oleh Johnston.

"Seperti yang Anda tahu, Fidel Castro saat ini sudah berusia 80 tahun dan dalam kesehatan yang tidak baik," tulis Johnston dalam blog-nya beberapa tahun lalu. "Dalam waktu dekat, Kuba akan melihat kematian diktator nya," imbuh dia.

Dengan meninggalnya Fidel Castro pada 25 November 2016 lalu, mereka yang percaya akan ramalan Johnston mengantisipasi terjadinya bagian terakhir dari ramalannya, yakni kehancuran total ekonomi AS.

"Aku meyakini bahwa kematian Castro mengindikasi bahwa kita memasuki zona bahaya ketika sistem ekonomi kia hancur," tulis seorang yang mempercayai ramalan Johnston, James Bailey, dalam Z3News.com.

Mantan presiden Kuba Fidel Castro saat menghadiri manuver saat ulang tahun ke-19-nya dan revolusioner kedatangan sesama di yacht Granma, di Havana di file foto November 1976 ini.  (REUTERS/Prensa Latina File Photo)

"Sebagai negara dengan ekonomi terbesar, kehancuran di sini (AS) akan membawa kencuran ekonomi global."

"Meski tanpa ramalan ini, ada bukti yang berkembang tentang adanya masalah dalam sistem keuangan kita. Pemerintah federal kita saat ini telah mengakumulasikan utang US$ 20 juta yang belum pernah diprediksi sebelumnya dan tumbuh lebih cepat," ujar Bailey.

"Kemampuan Federal Reserve Bank untuk terus memproduksi dolar hanya bisa terus berlanjut selama negara lain bersedia untuk terus menggunakan dolar AS sebagai cadangan mata uang mereka dalam perdagangan internasional. Namun dukungan telah berkurang, terutama di pasar berkembang seperti Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan," imbuh dia.

Namun masih ada sejumlah orang yang optimistis dengan proyeksi Organization for Economic Cooperation & Development (OECD) yang dilaporkan oleh Wall Street Journal. Dalam laporan itu disebutkan bahwa ekonomi Amerika Serikat dan global akan tumbuh dengan cepat di bawah kebijakan Trump untuk memotong pajak dan meningkatkan belanja.

Menurut OECD seperti dilansir Forbes, ekonomi AS akan tumbuh sebanyak 2,3 persen pada 2017 dan 3 persen pada 2018. Selain itu, diperkirakan investasi akan meningkat dengan cepat sekitar 5,5 persen di atas pada 2018.

Menanggapi hal tersebut, bagaimana menurut Anda?