Sukses

Tim Hillary Dukung Penghitungan Suara Ulang, Trump Meradang

Liputan6.com, Washington, DC - Pada Sabtu lalu, tim kampanye Hillary Clinton mengatakan akan ambil bagian dalam upaya untuk mendorong penghitungan suara ulang di beberapa negara bagian kunci termasuk Wisconsin. Aksi ini digagas oleh calon presiden dari Partai Hijau, Jill Stein.

Sementara itu presiden terpilih AS, Donald Trump menolak upaya penghitungan suara ulang. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa pemilu sudah selesai.

"Pemilu telah selesai, dan sebagaimana yang disampaikan oleh Hillary Clinton sendiri ketika mengucapkan selamat kepadaku, 'Kita harus menerima hasil pemilu dan melihat ke depan'," ujar Trump seperti dikutip dari CNN, Senin (28/11/2016).

Trump juga menuding Stein memanfaatkan isu penghitungan suara ulang untuk meraup keuntungan materi.

"Penghitungan suara ulang ini adalah cara Jill Stein yang hanya mendapat lebih dari satu persen dari keseluruhan suara untuk mengisi pundi-pundinya dengan uang, sebagian besar bahkan tidak akan dihabiskannya untuk hal konyol tersebut," kata taipan properti itu.

"Ini adalah penipuan oleh Partai Hijau atas kekalahan dalam pemilu, dan hasil pemilu ini harus dihormati bukan ditantang atau disalahgunakan, persis seperti yang dilakukan oleh Jill Stein," imbuhnya.

Tuduhan Trump tersebut dibantah Stein. Ia menjelaskan bahwa dana tersebut sepenuhnya akan digunakan untuk proses penghitungan suara ulang.

"Sebagai informasi, ini semua akan didedikasikan untuk penghitungan suara dan akun bank yang digunakan terpisah," jelas Stein.

"Dia (Trump) mungkin menciptakan fakta-faktanya sendiri sebagaimana publik mengenalnya di masa lalu. Dia sendiri sempat mengatakan bahwa pemilu telah dicurangi hingga pada akhirnya ia keluar sebagai pemenang," ungkap politisi perempuan itu.

Situs resmi Stein memuat lebih dari US$ 6 juta atau sekitar Rp 81 miliar sudah terkumpul dari sasaran akhir US$ 7 juta. Donasi ini dianggap cukup untuk melakukan penghitungan ulang di Wisconsin, Pennsylvania dan Michigan.

Pejabat Partai Hijau mengatakan, tuntutan penghitungan suara ulang di Wisconsin muncul setelah laporan menunjukkan terjadinya 'keanehan statistik'.

Co-chairman Partai Hijau, George Martin mengatakan bahwa pihaknya mengharapkan langkah ini akan memacu penyelidikan terhadap integritas sistem pemungutan suara di negara-negara bagian.

"Ini adalah sebuah proses, langkah pertama kami untuk menguji apakah demokrasi elektoral kami bekerja," tutur Martin.

Sementara itu, Stein melalui cuitannya di media sosial Twitter mengatakan bahwa ia siap untuk menuntut terjadinya penghitungan suara ulang tak hanya di Wisconsin, namun juga di negara-negara bagian lainnya seperti Pennsylvania, dan Michigan.

Gangguan Pihak Asing?

Penasihat kampanye Hillary, Marc Elias tak dapat menutupi kekhawatirannya tentang "gangguan" Rusia dalam pilpres AS.

"Siklus pemilu ini unik dalam tingkatan campur tangan pihak asing: pemerintah AS berkesimpulan bahwa Rusia mendalangi peretasan email Komite Nasional Demokrat dan akun pribadi Hillary. Dan baru kemarin, Washington Post melaporkan bahwa Rusia merupakan aktor di balik "berita palsu" propaganda yang beredar secara online saat jelang penutupan pemilu," ungkap Elias.

Namun seorang pejabar senior di pemerintahan menyebutkan tak ada bukti peretasan oleh Rusia.

"Pemerintah federal mengamati tidak ada peningkatan aktivitas dunia maya yang berbahaya dan ditujukan untuk mengganggu proses pemilu AS. Seperti yang kita ketahui sebelumnya, kami tetap percaya diri terkait dengan integritas infrastruktur pemilu. Ketika keluar hasilnya, kami meyakini bahwa pemilu kami bebas dan adil dari perspektif keamanan siber," jelas pejabat yang tidak disebutkan namanya itu.

Tim kampanye Hillary dikabarkan telah bertemu dengan pengacara, ahli data dan analis untuk mengkaji anomali hasil pemilu.

Penghitungan suara pada Rabu 23 November lalu menunjukkan Hillary unggul 2.017.563 suara atas Trump dalam popular vote. Dan jumlah ini kemungkinan akan terus bertambah mengingat penghitungan suara masih berlangsung.

Meski demikian hal tersebut tak akan mengubah fakta bahwa Trump adalah pemenang pemilu karena kendati kalah dalam popular vote, namun ia memenangkan electoral votes.

Artikel Selanjutnya
AS: Rezim Suriah Tengah Persiapkan Serangan Senjata Kimia
Artikel Selanjutnya
Marak Skandal Politik, Rusia Ganti Dubes di AS