Sukses

Ahli Komputer Desak Hillary Tuntut Perhitungan Ulang Pilpres AS

Liputan6.com, Ann Arbor - Tim kampanye Hillary Clinton sedang didesak oleh sejumlah ilmuwan hebat di bidang komputer untuk menuntut penghitungan ulang perolehan suara saat pemilihan presiden 8 November lalu di negara bagian Wisconsin, Michigan dan Pennsylvania.

Dikutip dari CNN, Rabu (23/11/2016), ilmuwan tersebut meyakini bahwa mereka menemukan bukti bahwa jumlah penghitungan suara di tiga negara bagian telah dimanipulasi atau diretas. Mereka mempresentasikan penemuan itu kepada asisten tertinggi Hillary melalui sebuah panggilan telepon pada Kamis 17 November lalu.

Salah satu ilmuwan, J. Alex Halderman yang merupakan direktur University of Michigan Center for Computer Security and Society, mengatakan kepada tim kampanye Hillary bahwa mereka meyakini terdapat kecenderungan yang harus dipertanyakan.

Hal tersebut terkait dengan performa buruk Hillary di negara bagian yang bergantung pada mesin pemungutan suara elektronik, dibandingkan dengan pemungutan yang menggunakan surat suara dan pemindai optik.

Kelompok ilmuwan tersebut memberikan informasi kepada ketua kampanye Hillary, John Podesta, dan penasihat umum kampanye, Marc Elias, bahwa Hillary menerima suara tujuh persen lebih rendah di beberapa negara bagian yang mengandalkan mesin pemungutan suara. Mereka menyebut bahwa hal tersebut bisa saja terjadi karena peretasan.

Tim tersebut mengatakan kepada Podesta dan Elias, sementara mereka tidak menemukan bukti peretasan, namun pola itu perlu dilihat oleh tinjauan independen.

Baik Halderman maupun John Bonifaz, yakni seorang pengacara yang juga mendesak kasus tersebut, merespons permintaan untuk berkomentar pada Selasa malam. Desakan mereka pertama kali dilaporkan oleh New York Magazine.

Terdapat kekhawatiran yang meluas mengenai peretasan menjelang pilpres AS, termasuk pemerintahan Obama yang menuduh Rusia berupaya untuk menerobos data pemilih. Namun para penanggungjawab pipres dan ahli keamanan cyber mengatakan, hampir tidak mungkin bagi Rusia untuk mempengaruhi hasil pemilu.

Mantan asisten Hillary menolak merespons pertanyaan, apakah mereka akan meminta diadakannya pemeriksaan berdasarkan temuan tersebut.

Artikel Selanjutnya
VIDEO: AS Pertimbangkan untuk Negosiasi Ulang NAFTA
Artikel Selanjutnya
PHOTO: KPU Gelar Uji Publik Tentang Tahapan Pemilu 2019