Sukses

Top 3: Membayangkan Tombol Nuklir AS di Tangan Donald Trump

Liputan6.com, Jakarta - Dalam suasana ketegangan global, para penguasa dunia yang memiliki akses kepada senjata nuklir harus sangat bijak. Dengan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden baru Amerika Serikat, muncul kekhawatiran akan keamanan arsenal mematikan milik negara tersebut. Berita itu menjadi pusat  perhatian pembaca Liputan6.com kanal Global  pada Sabtu (19/11/2016) pagi.

Selain kekhawatiran tentang senjata nuklir, ancaman serangan roket yang mengarah ke Mekah juga menyedot perhatian pembaca. Negara-negara anggota OKI pun menggelar rapat darurat mengenai ancaman tersebut.

Masih soal kegaduhan politik, para pembaca juga memperhatika eskalasi ketegangan politik di negara tetangga, Malaysia. Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menyerukan warga turun ke jalan. Kenapa?

Berikut adalah Top 3 Global selengkapnya: 

 

1. Apa Jadinya Jika 'Tombol Nuklir' AS Ada di Tangan Donald Trump?

Presiden ke-45 AS Donald Trump didampingi keluarga menyampaikan pidato kemenangan di hadapan para pendukungnya di Manhattan, New York Rabu (9/11). Trump unggul cukup jauh atas pesaingnya dari Partai Demokrat, Hillary Clinton. (REUTERS/Brendan McDermid)

Kemenangan Calon Presiden Partai Republik Donald Trump, sampai saat ini masih mengejutkan dunia. Menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat tentunya membuat miliarder nyentrik mendapat segudang keistimewaan.

Termasuk soal yang satu ini. Yaitu, kemana pun ia pergi, maka nuklir akan selalu mengikutinya.

Bagaimana bisa?

Mulai 20 Januari nanti, Donald Trump akan ditemani oleh sebuah tas yang diberi nama nuclear football. Tas itu sangat istimewa.

Betapa tidak, melalui tas tersebut sekali kirim pesan, maka senjata nuklir bisa meluncur kemana pun sesuai perintah sang penguasa AS.

Selanjutnya...


2. Rudal Ancam Mekah, OKI Gelar Rapat Darurat di Arab Saudi

Menlu Hadiri Pertemuan Darurat OKI di Arab Saudi (Foto Dokumentasi Kementerian Luar Negeri)

Menteri luar negeri negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) berkumpul di Mekah. Mereka datang untuk menghadiri pertemuan darurat terkait serangan rudal balistik ke Arab Saudi.

Sebagai negara anggota OKI, dalam pertemuan darurat ini delegasi Indonesia dipimpin langsung oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Mantan Dubes RI untuk Belanda di depan rapat tersebut menegaskan, pentingnya anggota OKI untuk berkontribusi terhadap perdamaian, keamanan dan stabilitas di kawasan dan di tingkat global.

Namun sayangnya, perkembangan di kawasan Timur Tengah belakangan ini menunjukkan sebaliknya, Khususnya terkait dengan situasi di Yaman.

Selanjutnya...


3. Mahathir Dorong Warga Malaysia Ikut Demo Tumbangkan PM Najib

Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad (tengah) saat menghadiri unjuk rasa Bersih 4.0 di Dataran Merdeka, Kuala Lumpur, 30 Agustus 2015. (REUTERS/Athit Perawongmetha)

Kondisi politik Malaysia kembali berguncang. Penyebabnya, adalah demo besar 'Bersih' yang akan digelar pada Sabtu, 19 November 2016 ini.

Kondisi pun semakin panas usai mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad buka suara. Dia menginstruksikan kelompok oposisi PM saat ini, Najib Razak untuk turun ke jalan.

Bukan cuma kelompok penentang, dorongan tersebut juga ia tujukan kepada kelompok sipil dan pendukung hak dalam pemilu di Malaysia untuk ikut serta.

Peran aktif ini, dinilai Mahathir penting. Sebab, dengan itu, tujuan masyarakat Malaysia menggulingkan PM Najib dari jabatannya bisa terwujud.

Selanjutnya...