Sukses

Donald Trump Sebut Demo yang Menentang Dirinya 'Tak Adil'

Liputan6.com, Portland - Protes atas kemenangan Donald Trump dalam pemilu presiden Amerika Serikat (AS) 2016 memasuki hari kedua. Di Portland, Oregon, pihak kepolisian setempat mengumumkan unjuk rasa berlangsung ricuh.

Seperti dilansir CNN, Jumat (11/11/2016) pihak kepolisian Portland melalui akun Twitter mereka secara terbuka menyatakan telah terjadi kerusuhan. Ini disebabkan oleh meluasnya tindak kriminal, perilaku berbahaya para pengunjuk rasa.

Oleh pihak kepolisian, aksi protes warga terhadap kemenangan Trump telah sampai pada tahap melanggar hukum.

"Setelah beberapa kali perintah untuk membubarkan aksi unjuk rasa, polisi menggunakan amunisi tak mematikan untuk menangkap dan menyudahi aksi mereka," ungkap pihak kepolisian melalui Twitter.

Massa dilaporkan mulai menyerang petugas dan melakukan pengrusakan.

Demonstrasi menentang Trump tersebut terjadi di sejumlah kota-kota besar di AS seperti Los Angeles, Philadelphia, Denver, Minneapolis, Baltimore, Dallas, Oakland, dan California.

Sementara itu, sang presiden terpilih AS turut mengomentari unjuk rasa untuk menentang kemenangannya. Melalui Twitternya pada Rabu waktu setempat ia menyebut apa yang dilakukan para pengunjuk rasa tersebut sangat tidak adil.

"Baru saja menjalani pilpres yang sukses dan terbuka. Sekarang demonstran profesional, dihasut oleh media untuk berunjuk rasa. Sangat tidak adil!," cuit Trump.

Namun unjuk rasa di berbagai kota tersebut tidak semuanya berlangsung ricuh. Di beberapa tempat terdapat pula atmosfer damai bahkan 'hening'.

Di Philadelphia, seorang demonstran, Deb Bentzel mengatakan, sebagai seorang perempuan yang percaya terhadap semua orang terlepas dari ras, agama, atau status kewarganegaraan harus 'dirangkul' oleh pemerintah AS. Dia menegaskan, unjuk rasa yang dilakukannya untuk menentang rasialisme, kebencian, misoginis, dan ketakutan yang ditimbulkan sosok Trump.

Sementara itu di Minneapolis, seorang pengunjuk rasa, Lauren Peck yang berkumpul di Humphrey Scholl of Public Affairs berbagi sentimen serupa.

"Menurutku penting untuk menyuarakan bahwa aku memiliki keprihatinan serius tentang presiden terpilih yang rasialisme, seksisme, xenophibia, dan banyak lagi yang tidak mewakili suaraku atau kehidupan banyak orang. Suasana di sini tenang, positif, dan energik," kara Peck.

Ikut berunjuk rasa di New York adalah seorang pembuat film dokumenter, Michael Moore. Menurutnya, Trump memang harus ditentang.

"Aku sangat bangga dengan fakta bahwa banyak orang turun ke jalan-jalan karena kepresidenannya harus ditentang sekarang," ujar Moore.

"Terdapat ribuan orang yang turun ke jalan dan aku bagian dari mereka. Ada banyak ketakutan dan kepanikan sekarang," imbuhnya.

Artikel Selanjutnya
Mahasiswa Walk Out Saat Wapres AS Berpidato, Ada Apa?
Artikel Selanjutnya
Insiden Ricuh Protes Anti-Erdogan, Deplu AS Panggil Dubes Turki