Sukses

Rusia Akui Bertemu Tim Kampanye Donald Trump Sebelum Pilpres AS

Liputan6.com, Moskow - Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, mengatakan bahwa pemerintahan Kremlin bertemu dengan tim kampanye Donald Trump sebelum presiden terpilih itu memenangkan "pertandingan" melawan Hillary Clinton.

"Memang ada komunikasi. Tentu saja kami melanjutkan hubungan ini setelah pemilihan," kata Sergei tanpa memberikan informasi detail mengenai pejabat mana yang bertemu dengan presiden terpilih AS itu, seperti dikutip dari Wall Street Journal, Jumat (11/11/2016).

Sergei juga mengatakan bahwa kedua pihak juga telah mulai menentukan bagaimana membangun dialog dengan pemerintahan Donald Trump di masa depan.

Sementara itu, ketua tim kampanye Trump, Hope Hiks, membantah adanya pertemuan antara "jagoannya" dengan Kremlin. "Tentu saja tidak," kata perempuan itu.

Namun, hal itu tetap menarik perhatian dari ahli keamanan nasional, setelah adanya isu yang mengatakan bahwa Kremlin berusaha untuk mempengaruhi Pemilu AS.

Sebelumnya, Presiden Putin membantah bahwa Kremlin memiliki hubungan atau mencoba campur tangan dalam pemilihan presiden Negara Paman Sam itu. 

Washington pun juga pernah menuding Moskow menjadi dalang di balik bocornya email mantan Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, pada Wikileaks.

Sebelum terpilih menjadi presiden ke-45 AS, Trump dituding terlalu "akrab" dengan Presiden Putin, walaupun belum pernah bertemu dengan pemimpin Rusia itu.

Trump juga mendapatkan kritikan pedas atas komentarnya yang terlalu "positif" mengenai Putin atau kebijakan Rusia lainnya.

Sementara itu, menurut laporan yang dilansir dari Washington Post, juru bicara Kementerian luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengatakan bahwa Kremlin hanya melakukan pertemuan "normal" dengan tim kampanye Trump.

Dia juga mengatakan bahwa pejabat Kremlin juga meminta pertemuan yang sama kepada capres Demokrat, tetapi ditolak oleh tim kampanye Hillary.

Ketika dimintai keterangan terkait isu tersebut, tim kampanye Hillary hanya menjawab balasan email itu dengan singkat: "tidak benar".

Pada September Trump diwawancarai oleh pembawa acara Larry King untuk segmen broadcast di RT America, media kerja sama dengan pemerintah Rusia.

Dalam acara itu suami Melania Trump itu mengkritik media AS dengan mengatakan mereka "sangat tidak jujur".

Menurut juru bicara Trump, wawancara itu merupakan bentuk "bantuan" kepada King, yang merupakan mantan host CNN dan teman dekat pria 70 tahun itu. Tim kampanye tidak mengetahui bahwa wawancara itu akan disiarkan di RT America.

Walaupun terjerat banyak skandal, hal tersebut tidak menghentikan pendukung Trump untuk memilih miliarder nyentrik itu untuk menjadi Presiden AS.

Artikel Selanjutnya
VIDEO: Polling Anjlok, Presiden Trump Tarik Simpati Pendukung
Artikel Selanjutnya
Donald Trump Mendikte Pernyataan Publik Putra Sulungnya?