Sukses

Rusia Gelar Latihan Keselamatan dari Serangan Bom Nuklir

Liputan6.com, Moskow - Rusia baru-baru ini pamer kekuatan senjata nuklir. Salah satu alasan melakukan itu adalah isu Perang Dunia III saat ini tengah mengemuka.

Rusia diyakini juga memiliki 55 senjata yang 'siaga'. Namun para ahli mengingatkan cukup hanya dengan lima di antaranya saja sudah bisa membuat Pantai Timur Amerika hancur lebur.

Mengerikannya lagi, senjata-senjata itu bahkan disebut-sebut mampu membuat bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki dalam PD II 'terlihat' tak ubahnya 'senapan mainan'.

Salah satu yang senjata yang paling mematikan adalah Satan dan Satan II.

Satan diklaim mampu menghapuskan garis Pantai Timur AS, sementara 'adiknya' mampu menjelajah hingga mencapai Texas.

Setelah pamer kekuatan itu, Moskow kini menggelar latihan mencari selamat dari Perang Nuklir - jika sampai terjadi. Kegiatan itu mengingatkan akan era Perang Dingin. Demikian dilansir Wall Street Journal, Rabu (26/10/2016).

Pelatihan itu terlihat di Ministry of Emergency. Negara itu tengah menggelar latihan keselamatan sipil terbesar semenjak Uni Soviet runtuh. Menurut pemerintah setempat, kegiatan itu melibatkan 40 juta warga. Mereka harus tahu bagaimana menyelamatkan diri ketika ada ancaman serangan senjata nuklir dan kimia.

Sebuah video memperlihatkan pekerja dari kementerian tersebut membagi baju hazmat (baju anti-bahan kimia), atau tengah mengecek ventilasi di shelter. Rekaman itu rencananya akan dibagi ke seluruh penjuru Rusia dan pelatihan digelar selama 4 hari.

"Sebuah bangunan perlindungan ada di bawah Moskow. Hal itu mampu menampung 100 persen seluruh populasi," kata Andrey Mishchenko, wakil menteri di Ministry of Emergency.

Sementara itu, televisi Rusia menyiarkan semangat nasional dengan mengetengahkan retorika kebencian terhadap AS.

"Rusia benci dengan kebohongan AS yang sombong," kata salah seorang komentator televisi terkenal.

1 dari 2 halaman

Membuat Bunker

Setelah pesawat udara koalisi AS salah tembak mengenai tentara Suriah pada September lalu, kementerian pertahanan Rusia meminta seluruh pertahanan udara Negeri Beruang Merah untuk menembak pesawat AS dan koalisinya. Langkah itu dilakukan jika mereka menunjukkan kekuasaannya.

"Kebanyakan dari kita Perang Dunia III sudah dimulai, namun sekarang kita sedang di fase perang dingin, yang mungkin --bisa juga tidak-- akan berubah jadi perang panas," kata Lev Gudkov, kepala grup survei, Levada-Center.

Serangan propaganda dalam beberapa bulan terakhir telah mendorong kemarahan publik terhadap berbagai sasaran dari Kremlin, termasuk Turki, Ukraina dan oposisi politik dalam negeri Rusia.

Media pemerintah Rusia dan komentator pro-Kremlin juga sudah mulai penekanan lebih penuh semangat terhadap Washington. Hubungan antara kedua negara jatuh ke titik terendah.

Rencana perdamaian runtuh di Suriah, di mana kedua negara mendukung sisi yang berlawanan dalam konflik berkepanjangan. Presiden Vladimir Putin tahun lalu membawa Rusia ke pertarungan dalam mendukung rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad.

"Untuk Rusia, perpecahan diplomasi di Suriah merupakan simbol dari disfungsi dari tatanan dunia yang ditetapkan oleh AS setelah Perang Dingin," kata Fyodor Lukyanov, Ketua Presidium Dewan Luar Negeri dan Kebijakan Pertahanan, yang menyarankan Kremlin dan lembaga pemerintah lainnya. "Bagi AS, Rusia hanya anak nakal."

Isu Perang Dingin juga bergema dalam politik AS. Calon presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton telah berdebat secara terbuka dengan capres Republik Donald Trump atas kebijakan Rusia dan serangan siber terhadap AS.

Tapi di Rusia, pembicaraan tentang Perang Dingin telah menjadi isu penting. Igor Zuyev, dari SIS Proektstroy tempat penampungan bom untuk perusahaan negara dan individu swasta, mengatakan perusahaannya telah melihat peningkatan tiga kali lipat dalam permintaan selama tahun lalu untuk membangun bom nuklir dan invasi militer.

Dibalik indahnya Stasiun Taganskaya di Moskow, tersimpan bunker rahasia persembunyian perang nuklir (Foto: weirdrussia.com).

"Ketika situasi mulai memanas, terutama setelah peristiwa Krimea, beberapa bulan kemudian orang gila, permintaan sangat tinggi," kata Zuyev, mengacu aneksasi Moskow semenanjung Laut Hitam di 2014. "Permintaan memiliki bunker meningkat sejak itu. "

Zuyev mengatakan sebuah bunker sederhana dilengkapi dimulai pada sekitar 15 juta rubel, atau hampir US$ 24.000, yang memungkinkan keluarga dengan empat orang untuk bersembunyi nyaman selama delapan jam.

Perusahaan pembuat bunker, Proektstroy menawarkan aksesoris seperti sistem ventilasi yang menyaring limbah radioaktif dan sistem satelit dan pemantauan video yang memungkinkan untuk mengetahui apa yang terjadi di luar.

"Orang-orang benar-benar ingin perlindungan total dari bencana alam hingga ke operasi militer," pungkas Zuyev.