Sukses

Terkuak, Penyebab 'Black Death' Abad Pertengahan di Inggris

Liputan6.com, London - Wabah sampar pada 1665-1666 di Inggris merupakan wabah besar terburuk di Inggris. Hampir seperempat penduduk London meninggal dunia.

Dalam tulisan abad 18 di A Journal of the Plague Year, Daniel Defoe mengkisahkan suasana bencana yang menimpa warga London.

"…ada yang langsung kalah olehnya, dan muncullah demam tinggi, muntah-muntah, sakit kepala yang tak tertahankan, nyeri punggung…"

"Orang-orang lain mengalami bengkak-bengkak dan tumor di leher atau selangkangan, atau ketiak, yang bisa menjadi penderitaan dan siksaan tiada akhir…"

Baru-baru ini, melalui uji DNA, tim peneliti berhasil memastikan jenis bakteri yang menjadi penyebab wabah hitam tersebut.

Semua bermula dari temuan kuburan masal di penggalian terowongan kereta Crossrail di Liverpool Street. Temuan itu diduga terkait dengan wabah Abad Pertengahan tersebut.

Gigi-gigi dicopot dan dikirim untuk analisis DNA purba di Lembaga Max Planck untuk Sejarah llmu Manusia di Jena, Jerman. (Sumber Crossrail)

Dikutip dari BBC pada Jumat (9/9/2016), ada 3.500 jasad di dalam situs penggalian. Sejumlah sampel DNA dikirim ke Jerman dan terungkaplah biang keladi wabah tersebut, bakteri Yersinia pestis.

Bukti patogen wabah itu hampir luput dari para ahli arkeologi hingga akhirnya mereka menemukan dugaan kuburan massal yang ditemukan di tempat pemakaman Bedlam, dikenal juga sebagai sebagai New Churchyard, London Timur.

Alison Telfer dari Museum of London Archaeology (MoLA) menjelaskan kepada program Today di BBC, "Kami menemukan sekitar 3.500 jasad di situs ini."

Daerah temuan dekat dengan eskalator turun untuk menuju ruang tiket Broadgate di Liverpool Street.

"Kami sudah bersusah payah selama 5,5 tahun dan berhadap bisa mendapat identifikasi positif wabah itu pada beberapa individu."

"Menurut posisi kerangka-kerangkanya, jelas mereka diletakkan dalam peti dan ditaruh secara layak, tidak ada yang dilempar begitu saja dalam kejadian yang traumatis itu."

Temuan demikian bertentangan dengan yang dilaporkan oleh Daniel Defoe. Panik dan kekacauan baru menyusul mendekati usainya wabah.

Vanessa Harding, profesor sejarah London di Birkbeck, University of London, memaparkan, "Tidak banyak yang terjangkit kemudian sembuh, tapi ada beberapa. Dan diduga lebih mudah menular dari orang ke orang, walaupun kita tidak mengetahui tentang adanya agen atau caranya hal ini terjadi."

"Tapi ada juga serangkaian upaya yang bisa dipandang sebagai penanganan kesehatan umum dari sudut pandang mereka, misalnya pemusnahan kucing dan anjing, menertibkan para pengemis dari jalanan, mencoba membersihkan kota baik secara moral maupun praktis. Warga mencoba sebisanya untuk keluar dari London."

Departemen osteologi di MoLA masih terus melakukan pencarian bakteri Yersinia perstis yang menjadi penyebab sampar itu pada beberapa kerangka.

Michael Henderson yang melakukan pemeriksaan mengatakan, "Kerangka-kerangka itu secara hati-hati dimasukkan dalam kotak, elemen masing-masing individu, kaki-kaki dipisahkan, lengan-lengan dipisahkan, tengkorak, lalu bagian badan."

"Kami melakukan ekskavasi 3.500 kerangka, sebagai salah satu yang digali secara arkeologis hingga saat ini. Data yang banyak menyediakan informasi yang sangat berarti."

Gigi-gigi dicopot dan dikirim untuk analisis DNA purba di Lembaga Max Planck untuk Sejarah llmu Manusia di Jena, Jerman. (Sumber Crossrail)

Tulang-tulang itu disusun secara anatomi. Gigi-gigi dicopot dan dikirim untuk analisis DNA purba di Lembaga Max Planck untuk Sejarah llmu Manusia di Jena, Jerman.

"Paling baik mencari sampel DNA adalah pada gigi, seperti kapsul waktu yang terisolasi," kata Hendersaon.

Di Jerman, ahli paleoantropologi molekuler bernama Kirsten Bos melubangi akar gigi untuk mencari bakteria abad ke-17 itu. Akhirnya, ada hasil positif dari lima di antara 20 individu yang menjalani tes di kuburan.

"Kami bisa menemukan penanda DNA terawetkan dalam intisari DNA yang kami hasilkan dari saluran akar gigi dan dari situ kami bisa menentukan bahwa Yersinia pestis beredar dalam individu itu pada saat kematiannya."

"Kita belum mengetahui mengapa wabah besar di London menjadi wabah sampar besar terakhir di Inggris atau apakah ada perbedaan genetik di masa lalu, yakni jenis yang beredar di Eropa dan di masa kini."

"Inilah yang sedang kami coba mengerti dengan menyusun lebih banyak informasi genetik dari organisme purba."

Bos dan timnya akan lanjut mengurutkan genom sepenuhnya DNA untuk mengerti lebih baik tentang evolusi dan penyebaran penyakit itu.

Tidak ada yang bisa menceritakan identitas mereka yang ada dalam kuburan massal di bawah proyek pembangunan Crossrail, tapi dekat sana ada batu nisan berukiran nama 'Mary Godfree' yang menjadi korban sampar. Pemakamannya tercatat dalam daftar pemakaman St. Giles, Cripplegate, pada 2 September 1665.

Artikel Selanjutnya
Terkuak, Misteri Kematian Mumi 1.100 Tahun Bersepatu 'Adidas'
Artikel Selanjutnya
Studi: Ubur-Ubur Adalah Nenek Moyang Hewan di Bumi