Sukses

Ajaib, Terumbu Karang 965 Km Ditemukan di Amazon

Liputan6.com, Amazon - Sungai Amazon, yang dikenal sebagai rumah bagi satwa liar dari lumba-lumba merah muda hingga piranha pemakan daging, telah mengungkapkan harta baru - terumbu karang besar yang membentang hingga 965 kilometer.

Hal itu dilaporkan oleh tim ilmuwan dari Brasil dan Amerika Serikat yang menemukan karang di perairan berlumpur di mulut Amazon. Mereka menerbitkan laporan itu di jurnal Science.

Sistem terumbu itu mencakup hingga 5.793 kilometer per segi di sepanjang dasar laut, yang membentang dari Guyana-Prancis ke Maranhao, Brasil, sepanjang tepi landas kontinen di Amerika Selatan.

 

Temuan ini mengejutkan karena sungai-sungai besar biasanya memiliki salinitas, pH atau keasaman dan penetrasi cahaya yang berbeda dengan air laut. Namun, sistem terumbu karang ini tampaknya menjadi sehat, menurut laporan tersebut.

Struktur karbonat, yang berfungsi sebagai bagian jalur air untuk ikan dan kehidupan laut lainnya, adalah rumah bagi koloni besar spons dan makhluk lain yang berkembang di perairan cahaya rendah. Studi ini juga mencatat 73 spesies ikan karang, banyak dari mereka adalah karnivora.

Sebuah tim ilmuwan internasional dari University of Georgia dan Federal University of Rio de Janeiro adalah sebuah ekspedisi untuk mempelajari lebih lanjut tentang hulu Sungai Amazon saat menemukan terumbu karang ajaib itu.

Hulu sungai adalah di mana air tawar dari sungai bercampur dengan air asin laut.

"Ekspedisi kami ke Zona Ekonomi Eksklusif Brasil terutama difokuskan pada sampel mulut Amazon," Patricia Yager, seorang profesor dengan University of Georgia dan peneliti utama proyek, mengatakan dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir dari CNN, Sabtu 23 April 2016.

Ajaib, Terumbu Karang Ditemukan di Sungai Amazon (CNN)

Namun, Yager juga ingin mengeksplorasi tentang teori pada artikel ilmiah pada 1970-an. Saat itu seorang ilmuwan tak sengaja menangkap ikan karang di sepanjang landas kontinen pantai itu. Sang penemu itu memprediksi adanya terumbu karang yang mungkin hidup di sepanjang garis pantai tersebut.

Ternyata, teori itu terbukti .

"Kami menemukan hewan yang paling menakjubkan dan berwarna-warni yang pernah saya lihat di sebuah ekspedisi," kata Yager.

Rincian laporan itu memberikan detail karang dan variasi ikannya, serta spons dan kehidupan laut lainnya di sepanjang pertemuan hulu sungai dan air laut.

Bagian selatan dari karang, yang mendapat lebih banyak cahaya, memiliki spektrum yang luas dari makhluk karang. Lebih jauh ke utara, sebagai cahaya berkurang, transisi satwa liar untuk makhluk seperti spons.

Seiring dengan penemuan karang, peneliti juga menemukan bukti yang menunjukkan permata Amazon ini mungkin sudah terancam.

"Dari pengasaman dan pemanasan laut hingga rencana eksplorasi minyak lepas pantai tepat di atas penemuan-penemuan baru, seluruh sistem karang akan berdampak bagi kehidupan manusia," ungkap Yager.

Terumbu karang terus menderita di seluruh dunia karena suhu air hangat dan faktor lainnya, menurut NOAA.

Sebuah laporan terbaru dari ARC Centre of Excellence for Coral Reef Studies menunjukkan bahwa 90% dari Great Barrier Reef di lepas pantai Australia menderita pemutihan karang, yang disebabkan oleh perubahan kondisi laut seperti suhu, cahaya atau nutrisi.

Pemutihan ini terjadi karena ganggang dan organisme lain yang hidup di situ merampas karang sebagai sumber makanan utama dan menyebabkan ia menjadi putih.

Pemutihan karang dianggap "dampak yang paling luas dan mencolok dari perubahan iklim," menurut PBB untuk Perubahan Iklim.