Sukses

Kotoran Manusia, Simbol Bintang Daud Biru di Rumah Warga Gaza...

Liputan6.com, Gaza - Ahmed Owedat akhirnya bisa kembali ke rumahnya, setelah 18 hari -- sejak tentara Israel menduduki tempat tinggalnya pada tengah malam itu. Makin dekat ke lokasi, pria itu disambut sengatan bau tak sedap.

Ahmed menyusuri kediamannya yang bukan main berantakan. Segala harta bendanya hancur berkeping. Beberapa bahkan remuk akibat dijatuhkan dari jendela lantai atas. Di dalam rumah ia menemukan sejumlah 'jejak' yang ditinggalkan pasukan negeri zionis: tumpukan kotoran manusia di lantai ubin dan keranjang sampah, sebuah botol plastik penuh urine. Juga serangkaian tulisan berisi caci maki.

Ada makian yang ditujukan pada Hamas yang diukir asal-asalan di dinding beton. Juga kata 'Burn Gaza down' -- 'bakar Gaza' dan 'Good Arab = dead Arab' yang digoreskan di permukaan meja. Simbol bintang Daud berwarna biru digambar di kamar tidur.

"Aku sudah menggosok lantai 3 kali hari ini, 3 kali juga kemarin," kata Ahmed, seperti Liputan6.com kutip dari Guardian, Jumat (8/8/2014). Pria 52 tahun itu tertegun memandang kerusakan yang dia alami. Empat televisi, sebuah kulkas, sebuah jam, dan sejumlah komputer hancur dilempar dari jendela. Tirai-tirai robek, sofa-sofa rusak.

Sejumlah kursi plastik bolong di tengah, digunakan sebagai WC tentara Israel. Lubang-lubang menganga di dinding luar, bekas tembakan memenuhi lantai atas. Di ruang tamu, sebuah diagram digambar di dinding -- menunjukkan gambar bangunan, pohon palem di desa itu, yang menurut Ahmer merepresentasikan jarak dari perbatasan.

"Aku tak punya uang untuk memperbaiki semua ini," kata dia, mengklaim tabungan yang ia kumpulkan seumur hidup, total sebesar US$ 10 ribu hilang dari apartemennya yang berjarak 3 km dari perbatasan Israel dan Gaza. "Semua rumah di sini dan di sana dihancurkan."

Ahmed dan keluarganya yang berjumlah 13 orang lari dari rumah setelah melihat serdadu dan tank mendekat pada 20 Juli 2014 pukul 01.00 -- dua hari sebelum invasi darat Israel. Beberapa kali, selama gencatan senjata yang berumur pendek, warga berusaha kembali ke rumah -- namun mereka hanya menemukan tentara-tentara negeri zionis menduduki rumah mereka dan mengusir si empunya pergi.

Sejauh ini, pihak militer Israel atau Israel Defence Forces (IDF) tak berkomentar terkait hal tersebut.

Di tempat lain, sekitar 1,5 jam mengemudi dari desa di mana Ahmed tinggal, pemandangan serupa terlihat di sekolah khusus perempuan Beit Hanoun: kehancuran.

Kompleks sekolah pendidikan itu diduduki IDF setelah invasi darat. Pecahan kaca, puing-puing berserakan di lantai dan tangga. Meja dan lemari dipenuh sisa-sisa yang ditinggalkan para serdadu: roti yang mengeras dan berjamur, kaleng-kaleng hummus yang kosong, buah zaitun yang mengering, kaleng-kaleng bekas minuman berenergi, selongsong peluru. Lalat berdengung di sekitar makanan yang membusuk.

Penjaga sekolah, Fayez mengatakan, para tentara Israel buang kotoran sembarangan di tempat sampah dan kotak kardus, juga kencing di botol air. 'Don't forget it's time for you to die' -- 'Jangan lupa, ini saatnya kau mati' ditorehkan di papan tulis menggunakan kapur, dalam Bahasa Inggris.

Setelah tentara Israel hengkang, giliran Hamas yang menyemprotkan kata-kata balasan. Misalnya, 'Israel akan kalah!'.

Apapun, Fayez berharap, 1.250 murid sekolah itu tak akan pernah melihat sumpah serapah itu. Para pekerja mulai bersih-bersih untuk menghilangkannya. "Butuh waktu setidaknya sebulan," kata Fayez. "Padahal tahun akademik akan dimulai dalam waktu 2 minggu." (Riz)